Posted by: keperawatanreligionfuji | December 22, 2010

PENGERTIAN DOA

Definisi Doa / Do’a / Berdoa – Arti, Pengertian, Taca Cara, dan Waktu Mustajab – Agama Islam

A. Arti Doa / Do’a
Doa adalah memohon atau meminta suatu yang bersifat baik kepada Allah SWT seperti meminta keselamatan hidup, rizki yang halal dan keteguhan iman. Sebaiknya kita berdoa kepada Allah SWT setiap saat karena akan selalu didengar olehNya.

B. Tujuan Berdo’a / Berdoa
– Memohon hidup selalu dalam bimbingan Allah SWT
– Agar selamat dunia akhirat
– Untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT
– Meminta perlindungan Allah SWT dari Setan yang terkutuk

C. Waktu-waktu yang tepat / mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT
– Ketika membaca AlQuran
– Setelah Solat wajib
– Pada saat tengah malam setelah sholat tahajud
– Saat melaksanakan ibadah haji
– Saat berpuasa wajib dan sunah

D. Adab atau Tata cara Berdoa / berdo’a
– Menghadap ke Kiblat / Ka’bah
– Sebelum berdoa membaca basmalah, istighfar dan hamdalah. Kemudian diikuti salawa nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
– Mengangkat kedua telapak tangan sebelum berdoa dan mengusap muka dengan telapak tangan setelah doa.
– Melembutkan suara dan tenang saat berdoa
– khusyuk, ikhlas dan serius
– Berharap agar doanya diterima Allah SWT
– Berdoa berulang-ulang di lain waktu untuk menunjukkan keseriusan kita agar dikabulkan oleh Allah SWT
– Setelah berdoa ditutup dengan salawat nabi dan pujian pada Allah SWT.

Advertisements
Posted by: keperawatanreligionfuji | December 22, 2010

DALIL YANG MENJELASKAN TETANG PENGERTIAN DOA


 

JANGANLAH KERANA KELAMBATAN MASA PEMBERIAN TUHAN KEPADA KAMU, PADAHAL KAMU TELAH BERSUNGGUH-SUNGGUH BERDOA, MEMBUAT KAMU BERPUTUS ASA, SEBAB ALLAH  MENJAMIN UNTUK MENERIMA SEMUA DOA, MENURUT APA YANG DIPILIH-NYA  UNTUK KAMU, TIDAK MENURUT  KEHENDAK KAMU, DAN PADA WAKTU YANG DITENTUKAN-NYA, TIDAK PADA WAKTU YANG KAMU TENTUKAN.

Apabila kita berkehendak mendapatkan sesuatu sama ada duniawi mahupun ukhrawi maka kita akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Jika usaha kita tidak mampu memperolehinya kita akan meminta pertolongan daripada orang yang mempunyai kuasa. Jika mereka juga tidak mampu membantu kita untuk mencapai hajat kita maka kita akan memohon pertolongan daripada Allah s.w.t,  menadah tangan ke langit sambil air mata bercucuran dan suara yang merayu-rayu menyatakan hajat kepada-Nya. Selagi hajat kita belum tercapai selagi itulah kita bermohon dengan sepenuh hati. Tidak ada kesukaran bagi Allah s.w.t untuk memenuhi hajat kita. Sekiranya Dia mengurniakan kepada kita semua khazanah yang ada di dalam bumi dan langit maka pemberian-Nya itu tidak sedikit pun mengurangi kekayaan-Nya. Andainya Allah s.w.t menahan dari memberi maka tindakan demikian tidak sedikit pun menambahkan kekayaan dan kemuliaan-Nya. Jadi, dalam soal memberi atau menahan tidak sedikit pun memberi kesan kepada ketuhanan Allah s.w.t. Ketuhanan-Nya adalah mutlak tidak sedikit pun terikat dengan kehendak, doa dan amalan hamba-hamba-Nya.
Dan Allah berkuasa melakukan apa yang di kehendaki-Nya. ( Ayat 27 : Surah Ibrahim )

Semuanya itu tunduk di bawah kekuasaan-Nya. ( Ayat 116 : Surah al-Baqarah )

Ia tidak boleh ditanya tentang apa yang Ia lakukan, sedang merekalah yang akan ditanya kelak. ( Ayat 23 : Surah al-Anbiyaa’ )

Sebahagian besar daripada kita tidak sedar bahawa kita mensyirikkan Allah s.w.t dengan doa dan amalan kita. Kita jadikan doa dan amalan sebagai kuasa penentu atau setidak-tidaknya kita menganggapnya sebagai mempunyai kuasa tawar menawar dengan Tuhan, seolah-olah kita berkata, “Wahai Tuhan! Aku sudah membuat tuntutan maka Engkau wajib memenuhinya. Aku  sudah beramal maka Engkau wajib membayar upahnya!” Siapakah yang berkedudukan sebagai Tuhan, kita atau Allah s.w.t? Sekiranya kita tahu bahawa diri kita ini adalah hamba maka berlagaklah sebagai hamba dan jagalah sopan santun terhadap Tuan kepada sekalian hamba-hamba. Hak hamba ialah rela dengan apa juga keputusan dan pemberian Tuannya.

Doa adalah penyerahan bukan tuntutan. Kita telah berusaha tetapi gagal. Kita telah meminta pertolongan makhluk tetapi itu juga gagal. Apa lagi pilihan yang masih ada kecuali menyerahkan segala urusan kepada Tuhan yang di Tangan-Nya terletak segala perkara. Serahkan kepada Allah s.w.t dan tanyalah kepada diri sendiri mengapa Tuhan menahan kita dari memperolehi apa yang kita hajatkan? Apakah tidak mungkin apa yang kita inginkan itu boleh mendatangkan mudarat kepada diri kita sendiri, hingga lantaran itu Allah s.w.t Yang Maha Penyayang menahannya daripada sampai kepada kita? Bukankah Dia Tuhan Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang lagi Maha Mengetahui.

 

Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu mengetahui (segala-galanya)? Sedang Ia Maha Halus urusan Tadbiran-Nya, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya. ( Ayat 14 : Surah al-Mulk )

Dialah yang mengetahui segala yang ghaib dan yang nyata, (dan Dialah jua) yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana. ( Ayat 18 : Surah at-Taghaabun )

Apa sahaja ayat keterangan yang Kami mansuhkan (batalkan), atau yang Kami tinggalkan (atau tangguhkan), Kami datangkan ganti yang lebih baik daripadanya, atau yang sebanding dengannya. Tidakkah engkau mengetahui bahawasanya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu? ( Ayat 106 : Surah al-Baqarah )

Allah s.w.t Maha Halus (Maha Terperinci/Detail), Maha Mengerti dan Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Allah s.w.t yang bersifat demikian menentukan buat diri-Nya yang apa sahaja yang Dia mansuhkan digantikannya dengan yang lebih baik atau yang sama baik. Dia boleh berbuat demikian kerana Dia tidak bersekutu dengan sesiapa pun dan Dia Maha Berkuasa.
Seseorang hamba sentiasa berhajat kepada pertolongan Tuhan. Apa yang dihajatinya disampaikannya kepada Tuhan. Semakin banyak hajatnya semakin banyak pula doa yang disampaikannya kepada Tuhan. Kadang-kadang berlaku satu permintaan  berlawanan dengan permintaan yang lain atau satu permintaan itu menghalang permintaan yang lain. Manusia hanya melihat kepada satu doa tetapi Allah s.w.t menerima kedatangan semua doa dari satu orang manusia itu. Manusia yang dikuasai oleh kalbu jiwanya berbalik-balik dan keinginan serta hajatnya tidak menetap. Tuhan yang menguasai segala perkara tidak berubah-ubah. Manusia yang telah meminta satu kebaikan boleh meminta pula sesuatu yang tidak baik atau kurang baik. Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk hamba-Nya tidak berubah kehendak-Nya. Dia telah menetapkan buat Diri-Nya:

Bertanyalah (wahai Muhammad): “Hak milik siapakah segala yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “(Semuanya itu) adalah milik Allah! Ia telah menetapkan atas diri-Nya memberi rahmat.” (Ayat 12 : Surah al-An’aam )

Orang yang beriman selalu mendoakan:
“Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab  neraka”. ( Ayat 201 : Surah al-Baqarah )

Hamba yang mendapat rahmat dari Allah s.w.t diterima doa di atas dan doa tersebut menjadi induk kepada segala doa-doanya. Doa yang telah diterima oleh Allah s.w.t menapis doa-doa yang lain. Jika kemudiannya si hamba meminta sesuatu yang mendatangkan kebaikan hanya kepada penghidupan dunia sahaja, tidak untuk akhirat dan tidak menyelamatkannya dari api neraka, maka doa induk itu menahan doa yang datang kemudian. Hamba itu dipelihara daripada didatangi oleh sesuatu yang menggerakkannya ke arah yang ditunjukkan oleh doa induk itu. Jika permintaannya sesuai dengan doa induk itu dia dipermudahkan mendapat apa yang dimintanya itu.

Oleh sebab itu doa adalah penyerahan kepada Yang Maha Penyayang dan Maha Mengetahui. Menghadaplah kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya serta ucapkan, “Wahai Tuhanku Yang Maha Lemah-lembut, Maha Mengasihani, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana! Daku adalah hamba yang bersifat tergopoh gapah, lemah dan jahil. Daku mempunyai hajat  tetapi daku tidak mengetahui kesannya bagiku, sedangkan Engkau Maha Mengetahui. Sekiranya hajatku ini baik kesannya bagi dunia dan akhiratku dan melindungiku dari api neraka maka kurniakan ia kepadaku pada saat yang baik bagiku menerimanya. Jika kesudahannya buruk bagi dunia dan akhiratku dan mendorongku ke neraka, maka jauhkan ia daripadaku dan cabutkanlah keinginanku terhadapnya. Sesungguhnya Engkaulah Tuhanku Yang Maha Mengerti dan Maha Berdiri Dengan Sendiri”.

 

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya, dan Dialah juga yang memilih (satu-satu dari makhluk-Nya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan); tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaan-Nya dari apa yang mereka sekutukan dengan-Nya. { Ayat 68 : Surah al-Qasas

Posted by: keperawatanreligionfuji | December 22, 2010

MANFAAT BERDOA


BERDOA — yang secara etimologis berarti “meminta kepada Allah” — mempunyai tujuan-tujuan yang bukan saja bersifat ukhrawi, melainkan juga bersifat duniawi. karena doa bukanlah untuk kepentingan Allah melainkan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Kalaupun kita berdoa untuk memohon segala “sesuatu yang kita butuhkan”, “yang kita inginkan” ataupun hanya “untuk menenangkan diri dari segala kesusahan”, namun doa mempunyai beberapa faidah yang tak terhingga.

 

 

Syekh Sayyid Tantawi, syaikhul Azhar di Mesir, merangkum manfaat doa itu dalam tiga poin:
Pertama: doa berfungsi untuk menunjukkan keagungan Allah swt kepada hamba-hambaNya yang lemah. Dengan doa seorang hamba menyadari bahwa hanya Allah yang memberinya nikmat, menerima taubat, yang memperkenankan doa-doanya. Allah swt. berfirman: …atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati-Nya (QS. An Naml:62).

 

Tak ada satupun anugerah yang bisa diberikan kecuali oleh Allah swt yang Maha Pemberi, yang membuka pintu harapan bagi hamba-hamba-Nya yang berdosa sehingga sang hamba tidak dihadapkan pada keputusasaan. Bukankah Allah swt berjanji akan selalu mengabulkan doa hamba-hambaNya? “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. (QS Ghafir: 60)Janji Allah untuk mengabulkan doa kita merupakan tahrid (motivasi) untuk bersegera berbuat baik, dan tarbiyah (mendidik) agar kita mengakui dan merasakan nikmat Allah sehingga jiwa kita semakin terdorong untuk selalu bersyukur. Sebab rasa syukur itu pula yang mendorongnya untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Manfaat kedua yaitu, doa mengajari kita agar merasa malu kepada Allah. Sebab manakala ia tahu bahwa Allah akan mengabulkan doa-doanya, maka tentu saja ia malu untuk mengingkari nikmat-nikmatNya.
Bahkan manakala manusia sudah berada dalam puncak keimanan yang kuat sekalipun, maka ia akan lebih dekat lagi (taqarrub) untuk mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini dicontohkan oleh nabi Sulaiman as. ketika berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. An Naml: 35).

Maka Allah pun mengabulkannya. Nabi Sulaiman bertanya kepada semua makhluk siapa yang mampu memindahkan singgasana Balqis ke hadapannya. Salah satu ifrit yang tunduk atas perintah nabi Sulaiman berkata: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.
Ternyata benar, ifrit dari golongan jin itu datang membawa singgasana Balqis dari Saba (Yaman) ke Syria tidak kurang dari kedipan mata. Menyaksikan nikmat yang ada di “hadapannya”, nabi Sulaiman lantas berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Manfaat yang ketiga adalah mengalihkan hiruk-pikuk kehidupan dunia ke haribaan tafakur dan kekudusan munajat ke hadirat Allah swt, memutuskan syahwat duniawi yang fana menuju ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Wallahu a’lam

Posted by: keperawatanreligionfuji | December 22, 2010

PERAN PERAWAT DALAM MENDOAKAN PASIEN


Peran Doa Dalam Pengobatan

Penelitian Snyderman (1996) menyebutkan bahwa terapi medis saja tanpa disertai dengan doa dan dzikir, tidaklah lengkap. Sebaliknya doa dan dzikir saja tanpa disertai dengan terapi medis, tidaklah efektif. Sementara itu Matthew (1996) menyatakan bahwa suatu saat kita para dokter dan perawat selain menuliskan resep obat juga akan menuliskan doa dan dzikir pada kertas resep sebagai pelengkap.

Oleh sebab itu sudah sewajarnyalah kita sebagai seorang perawat ikut mendoakan pasien yang sedang sakit. Karena dengan kita ikut mendoakan nya pasien tersebut bisa saja merasa dihargai dan diperhatikan. Sebagaimna yang kita ketahui sifat dasar manusia adalah selalu ingin diperhatikan, dan Allah juga menyukai orang-orang yang mau meminta kepadanya.

Resep Doa dan Dzikir

Resep doa dan dzikier yang diberikan kepada para pasien untuk diamalkan selain meminum obat sesuai dengan resep dokter:

  1. Usaha berobat

Bagi mereka yang menderita sakit hendaknya berusaha berobat disertai dengan doa dan dzikir, hal ini sesuai dengan dua buah hadist berikut yang artinya:

    1. “Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan izin Allah penyakit itu sembuh. (H.R. Muslim dan Ahmad)”
    2. “Berobatlah kalian, maka sesungguhnya Allah SWT tidak mendatangkan penyakit kecuali mendatangkan juga obatnya, kecuali penyakit tua.” (H.R. At Tirmidzi)
  1. Allah yang menyembuhkan

Sesungguhnya pasien yang berobat pada dokter, dokter hanyalah mengobati penyakit yang diderita pasien, namun sesungguhnya Allah yang menyembuhkan. Hal ini sesuai dengan dua ayat berikut, yang artinya:

    1. “Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa, apabila berdoa kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah, 2:186)
    2. Dan bila aku sakit Dialah yang menyembuhkan” (Q.S. Asy Syu’araa’, 26:80)
  1. Penyakit adalah cobaan perlu kesabaran

Dalam pandangan agama Islam orang yang sedang menderita sakit itu dapat dianggap sebagai ujian keimanan, dan untuk mengatasinya diperlukan kesabaran, sebagaimana 3buah ayat berikut ini, yang artinya :

    1. “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah, 2:153).
    2. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. Al Baqarah, 2:155).
    3. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S. Azzumaz, 39:10).
  1. Ridho dan penghapusan dosa

Bila seseorang sedang menderita sakit, sebagai seorang yang beriman hendaknya menerima sakitnya itu sebagai cobaan dengan hati yang ridha; karena sesungguhnya apa yang sedang dideritanya itu sebagai suatu penghapusan dosa yang sadar atau tidak sadar pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini sesuai dengan 2 buah hadist, yang artinya :

    1. “Dan sesungguhnya bila Allah SWT. Mencintai suatu kaum, dicobanya. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan menerima Keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha), dia akan memperoleh kemurkaan Allah” (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
    2. “Dari Abu Huairah r.a dari Nabi Muhammad SAW. Bersabda: Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, kesusahan, kesedihan, penyakit, gangguan menumpuk pada dirinya (karena banyaknya) kecuali Allah hapuskan akan dosa-dosanya” (H.R. Bukhari dan Muslim)
  1. Besarta kesukaran ada kemudahan

Orang yang menderita sakit seringkali kurang sabar berobat kesana kemari berpindah-pindah karena kurang percaya diri. Meskipun penyakitnya itu nampaknya sukar untuk disembuhkan sesungguhnya tidak demikian. Orang itu hendaknya berobat pada ahlinya dan senantiasa berdoa kepada-Nya (tawakal). Hal ini sesuai dengan ayat berikut ini, yang artinya:

‘Maka sesungguhnya beserta kesukaran itu ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesukaran ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah (urusan yang lain) dengan sungguh-sungguh, dan kepada Tuhanmu engkau memohon tolong” (Q.S. Al-Insyiraah,94:5-8)

  1. Ketenangan jiwa

Pada umumnya orang yang sedang menderita sakit diliputi oleh rasa cemas dan jiwa yang tidak tenang. Selain berobat pada ahlinya, maka berdoa dan berdzikir (mengingat Allah) dapat menenangkan jiwa yang bersangkutan. Tuhan menganjurkan dalam keadaan bagaimanapun juga hendaknya ketenangan jiwa tetap dijaga karena Allah menjanjikan pahala surga. Dua buah ayat berikut yang artinya:

    1. “(yaitu), orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram” (Q.S. Ar Ra’d, 13: 28)
    2. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang Ridho lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam Surga-Ku” (Q.S. Al Fajr, 89:27-30)
  1. Jangan cemas dan sedih

Biasanya orang yang sedang menderita sakit diliputi kecemasan dan kesedihan. Kedua hal ini dapat memperberat penyakit yang sedang dideritanya; oleh karena itu selain obat anti cemas dan anti defresi yang diberikan, pasien hendaknya berdoa sebagaimana dua ayat berikut ini:

    1. “Dan tidaklah Kami mengutus para Rasul melainkan untuk menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Maka, barang siapa yang beriman dan berbuat baik, bagi mereka tidak ada kekhawatiran(kecemasan) dan tidak (pula) berduka cita dan bersedih hati (defresi)” (Q.S. Al An’aam, 6:48)
    2. “Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman” (Q.S. Ali Imran,3;139)
  1. Jangan was-was, bimbang dan ragu

Orang yang sedang sakit berkepanjangan seringkali diliputi oleh rasa was-was,bimbang dan ragu terhadap terapi medik-psikiatrik yang diberikan oleh dokter(psikiater). Dalam kondisi yang demikian ini ia mulai tersugesti oleh anjuran orang lain untuk berobat ke dukun,paranormal,”orang pintar”,dan sejenisnya; yang pada gilirannya dapat memperparah penyakitnya. Untuk menghindari hal tersebut perlu dipulihkan rasa percaya diri yaitu dengan ayat berikut ini yang artinya :

“Katakanlah : aku berlindung kepada Tuhan yang memelihara manusia,yang menguasai manusia,Tuhan bagi manusia,dari kejahatan bisikan setan(was-was,ragu dan bimbang) yang tersembunyi. Yang membisikkan dalam dada (hati) manusia yang berasal dari jin dan manusia” (Q.S. An Naas,114:1-6)

  1. Doa kesadaran menghadapi fitnah

Orang bias menderita sakit secara fisik maupun psikis akibat difitnah oleh orang lain. Sehubungan dengan hal itu selain berobat pada ahlinya,kesabaran dan doa diperlukan untuk meningkatkan kekebalan fisik maupun mental; ayat berikut ini dapat diamalkan yang artinya :

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”(Q.S. Al Muzzammil,73:10).

  1. Doa menghindari dari fitnah

Sebagaimana halnya pada butir (9) di atas,seseorang dapat sakit akibat fitnah orang lain. Oleh karena itu guna menghindarinya doa sebagaimana ayat berikut ini dapat diamalkan,yang artinya:

“Ya Tuhan kami,janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi orang-orang kafir,dan ampunilah kami ya Tuhan kami,sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Al Mumtahanah,60:5)

  1. Doa menghadapi orang yang zalim

Seseorang dapat jatuh skait akibat dizalimi oleh orang lain,sementara ia sendiri tidak berdaya. Selain berobat yang bersangkutan dapat memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Adil sebagaimana ayat berikut ini yang artinya:

“Ya Tuhanku ampunilah aku,ibu bapakku,orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan kepada orang-orang zalim melainkan kebinasaan”(Q.S. Nuuh,71-28)

  1. Jangan berburuk sangka

Biasanya bila seseorang menderita sesuatu penyakit,orang itu berkeluh kesah,tidak sabar dan seringkali berburuk sangka terhadap Allah swt; antara lain dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil dan lain sebagainya.Oleh karena itu selain berusaha berobat pada ahlinya hendaknya hidari pikiran atau perasaan buruk sangka terhadap Allah,Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Penyembuh. Ayat dan hadis berikut ini dapat diamalkan,yang artinya:

    1. “Dan bila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan” (Q.S. Asy Syu’araa’,26:80)
    2. “Aku senantiasa berada disamping hamba-Ku yang berbaik sangka dan Aku tetap bersamanya selama ia tetap ingat pada-Ku”(H.R. Bukhari dan Muslim).
  1. Jangan putus asa

Dalam menghadapai penyakit berat dan kronis,seringkali orang diliputi oleh rasa putus asa padahal sudah berobat sebagaimana mestinya,namun belum juga memperoleh kesembuhan. Sebagai seorang yang beragama dan beriman,rasa putus asa hendaknya dihindari; untuk mengatasinya ayat dan hadis berikut ini dapat menol;ong dari keputusasaan,yang artinya:

    1. “Katakanlah,hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dari segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Penyayang” (Q.S. Az Zumar,39:53)
    2. “Janganlah ada seseorangpun diantaramu mengharapkan mati karena bahaya (penyakit) yang menimpa dirinya. Maka seandainya terpaksa mengharapkan mati, hendaknya ia membaca:Ya Allah, hidupkanlah aku apabila hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika mati itu lebih baik bagiku” (H.R. Jama’ah dari Anas).
  1. Doa sebelum dan sesudah minum obat

Seseorang yang sedang menderita sakit sebelum minnum obat yang diresepkan oleh dokter, sebaiknya berdo’a sebagai hadist berikut ini yang artinya:

    1. “Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung agar menyembuhkan aku dengan tidak menderita sakit lagi” (H.R. Bukhari).
    2. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang: Ya Allah, Tuhannya manusia, hilangkanlah derita, sembuhkanlah penyakit, Engkaulah Zat Maha Penyembuh kecuali Engkau. Ya Allah hamba mohon kepada-Mu agar aku sahat” (H.R. Ahmad Nasai dari Muhammad bin Khatib)

Sesudah minum obat disertai doa sebagaimana tersebut diatas, sesuai dengan anjuran Nabi hendaknya yang bersangkuta sesudah meminum obat membaca doa berikut ini, yang artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kepada kita kecukupan dan kepuasan yang tidak terabaikan dan tidak tertolak” (H.R. Bukhari dari Abi Umamah).

  1. Doa sesudah sembuh

Bila seseorang telah sembuh dari penyakitnya, setelah menjalani pengobatan secara medik-psikiatrik disertai dengan doa dan zikir; patutlah ia bersyukur pada Allah SWT. Sebagai berikut, yang artinya:

“Segala puji kepunyaan Allah, Tuhan yang memelihara segalaalam , pujian yang menyamai nikmatnNyadan menandingi keutamaannya” (H.R. Bukhari)

  1. Doa ampunan

Orang yang sedang sakit seringkali disert6ai dengan perasaan bersalah dan berdosa karena pelanggaran-pelanggaran yang pernah dilakukannya dimasa lalu. Untuk itu pintu taubat dan ampunan dari Allah SWT. Tetap terbuka lebar. Ayat dan hadist berikut ini dapat diamalkan, yang artinya:

a. “Dan mohpon ampunlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Annisa,4:106)

b. “ Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seseorang hambanya selama ruh (nyawanya) belum sampai ditenggorokannya (dalam keadaan sakaratul maut). Bertaubatlah kamu sebelum maut menjemputmu” (HR. At-Tirmidzi)

  1. Doa Pasrah

Orang yang sedang sakit selain berobat, berdoa dan berdzikir hendaknya pasrah agar tidak terbebani secara mental karena keterbatasan manusia dan tuhanlah yang menentukan hidup atau mati hambaNya. Hal ini sesuai dengan dua ayat berikut ini, yang artinya;

    1. “Kepunyaan-Nya-lah kekuasaan langit dan bumi dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan” (Q.S. Al Hadiid,57:5)
    2. “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-An’am,6:162)
  1. Doa menghadapi kematian

Bila seseorang dalam keadaan mendekati kematian, maka menjadi kewajiban anggota keluarganya untuk menuntunnya mengucapkan kalimat (yaitu dengan membisikkan ke telinganya): “Laa Ilaaha Ilallah (Tiada Tuhan selain Allah). Hal ini sesuai dengan dua buah hadist berikut, yang artinya:

    1. “Ajarkanlah kepada akan mati (diantara) kiamu kalimat: “Laa Ilaaha Ilallah” (H.R. Muslim)
    2. “Siapa yang akhir kalimat yang keluar dari lidahnya, kalimat “Laa Ilaaha Ilallah” pasti masuk sorga” (H.R. Abu Daud dan Al-Hakim).
  1. Dzikir yang dianjurkan

Selain contoh doa sebagaimana diuraikan dimuka, maka tidaklah lengkap dan sempurna apabila tidak disertai dengan dzikir. Dzikir adalah ucapan yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Perihal dzikir, ayat berikut ini menjelaskannya yang artinya:

“Dan berdzikirlah (ingat Tuhanmu) dalam hatimu dalam kerendahan hati dan rasa takut, dengan suara perlahan-lahan diwaktu pagi dan petang hari, dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-a’raaf)

Adapun ucapan atau bacaan dzikir yang dimaksudkan adalah:

a. Membaca Tasbih: “Subhaanallaah” (Maha suci Allah)

b. Membaca Tahmid: “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah)

c. Membaca Tahlil: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah)

d. Membaca Takbir: “Allahu Akbar” (Allah Maha Besar)

e. Membaca Hauqalah: “Laa haula walaa quwwata ilaa billah” ( Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali kepunyaan Allah)

f. Membaca Hasbalah: “Hasbiyallaahu wani’mal wakil” (Cukuplah Allah dan sebaik-baik pelindung)

g. Membaca istigfar: “Astagfirullaahal’azhiim” (Saya mohon ampun kepada Allah yang maha Agung)

h. Membaca Lapad Baaqiyaatush shaalihat: “Subhanallah, walhamdulillaah, walaa ilaaha illallah, wallaahu akbar” (Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Allah maha besar)

Hawari, Dadang. 2005. Dimensi Religi Dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Posted by: keperawatanreligionfuji | December 22, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories